Gadis kecil itu baru kemarin berusia 10 tahun, masih duduk di kelas 4 Sekolah Dasar, dia anak yang riang, punya rambut panjang yang selalu di kepang. Temannya banyak di sekolah karena Rhe, begitu dia selalu di sapa, murid yang berprestasi.
Perumahan tempat Rhe tinggal, perumahan baru yang penghuninya belum banyak.
Hari ini Rhe terlihat senang, dia akan mendapat teman baru, anak tante Icut, tetangga sebelah yang baru pindah. Sepulang sekolah Rhe tak sabar ingin segera menyapa, "Nanti sore aja ke rumah sebelah sayang" kata sang Bunda, senyumnya melebar melihat wajah anaknya sedikit kecewa.
"Kenapa gak boleh sekarang sih Bund?"
"Rhe kan baru pulang sekolah, seragamnya juga belum di ganti, dan yang terpenting, Rhe belum cuci tangan"
Rhe tersenyum malu, dia lupa, cuci tangan itu salah satu aturan yang tidak boleh di langgar di rumahnya, kata Bunda, kuman di telapak tangan itu sumber penyakit, dan Rhe percaya, disekolah juga di ajari seperti itu.
***
Rhe telah selesai mandi sore, dia bersiap melangkah kerumah sebelah, tapi langkahnya terhenti diteras depan, ada yang datang, gadis kecil itu sebayanya, punya senyum yang cantik menurut Rhe, matanya bersinar, rambutnya sebahu memakai bando merah, seperti puteri dalam cerita dongeng yang sering di ceritakan Bunda.
"Hai, namaku Anna" tangan sang tamu terulur ingin berjabat, Rhe tersenyum, lalu ikut meggulurkan tangannya tapi terhenti, karena ada suara yang membuatnya menoleh.
"Namaku Anni" tamu itu punya wajah yang sama, rambut yang sama dengan bando yang berwarna beda, biru.
Rhe tersenyum makin lebar, dapat dua teman yang sebaya, pasti menyenangkan.
"Namamu?" keduanya serentak bertanya, lalu tertawa bareng.
"Namaku Rhe.."
Sore yang indah.
***
#End
chilstory
Selasa, 26 Maret 2013
Kamis, 21 Maret 2013
Kucing
Fathin berdiri diam, kaki kecilnya enggan melangkah maju, sang Mama terlihat sabar menunggu reaksi anak keduanya yang sedikit pemalu, di bandingkan Icha kakaknya, Fathin bukan type anak yang bisa langsung membaur bermain dengan teman baru,"Ayo sayang...kesini " ajakkan sang mama hanya di liatnya sekilas, dan fathin tetap berada di tempatnya semula, tidak ada yang menarik hatinya, padahal taman bermain ini ramai dengan anak-anak yang sebayanya,"Liat tuh kak Icha...main ayunan...ikut yuk " Mama membujuk, membawa anak-anak main di luar seperti di taman ini perlu, melatih anak untuk bersosialisasi pikirnya.
Fathin bergerak maju, baru dua langkah kecil tiba-tiba dia kembali diam di tempatnya, matanya menatap sesuatu yang bergerak di rumput,"Kucing..." katanya dengan riang, senyumnya langsung beredar, langkahnya berubah cepat, Fathin mendekat,"Ma...Kucing" ucapnya dengan mimik lucu.
"Iya...siapa nama Kucingnya?"
"Icha..."
"Kok Icha...Icha itu nama kakaknya Fathin,ayo...siapa nama Kucingnya? Pussy aja ya "
"Pusi..."
"Kasi tau kak Icha, ada Kucing bilang"
Fathin mendekati kakaknya "Kak...kucing"
"Dimana dek?"
"Di situ..." tangannya menunjuk.
"Kasi tau teman adek, ada Kucing bilang" gaya Icha tak jauh beda dengan sang Mama.
Fathin terlihat ragu, belum ada yang di kenalnya, tapi keberaniannya muncul tiba-tiba, entah siapa yang berjalan didekatnya langsung ditegurnya, sambil berkata "Ada Kucing..."
Beberapa anak sebayanya mulai mendekat, mereka langsung terlihat akrab, Mama tersenyum melihat Fathin, jagoan kecilnya mulai membuka diri dan terlihat lebih berani.
***
Sore menjelang, sang Mama harus kembali membujuk Fathin, tapi kali ini kasusnya beda, Fathin tak ingin pulang, dia masih ingin bermain dengan teman-temannya hingga Mama terpaksa berjanji, besok ke taman lagi, bermain dan melihat pussy.
***
#end
Fathin bergerak maju, baru dua langkah kecil tiba-tiba dia kembali diam di tempatnya, matanya menatap sesuatu yang bergerak di rumput,"Kucing..." katanya dengan riang, senyumnya langsung beredar, langkahnya berubah cepat, Fathin mendekat,"Ma...Kucing" ucapnya dengan mimik lucu.
"Iya...siapa nama Kucingnya?"
"Icha..."
"Kok Icha...Icha itu nama kakaknya Fathin,ayo...siapa nama Kucingnya? Pussy aja ya "
"Pusi..."
"Kasi tau kak Icha, ada Kucing bilang"
Fathin mendekati kakaknya "Kak...kucing"
"Dimana dek?"
"Di situ..." tangannya menunjuk.
"Kasi tau teman adek, ada Kucing bilang" gaya Icha tak jauh beda dengan sang Mama.
Fathin terlihat ragu, belum ada yang di kenalnya, tapi keberaniannya muncul tiba-tiba, entah siapa yang berjalan didekatnya langsung ditegurnya, sambil berkata "Ada Kucing..."
Beberapa anak sebayanya mulai mendekat, mereka langsung terlihat akrab, Mama tersenyum melihat Fathin, jagoan kecilnya mulai membuka diri dan terlihat lebih berani.
***
Sore menjelang, sang Mama harus kembali membujuk Fathin, tapi kali ini kasusnya beda, Fathin tak ingin pulang, dia masih ingin bermain dengan teman-temannya hingga Mama terpaksa berjanji, besok ke taman lagi, bermain dan melihat pussy.
***
#end
Langganan:
Komentar (Atom)